PENYIMPANGAN OPERASIONAL
Suatu kesimpulan yang cukup mengejutkan diambil oleh Doug Lennick dan Fred Kiel (2005) dalam buku mereka “Moral Intelligence”. Mereka menyimpulkan bahwa ternyata perusahaan-perusahaan yang dipimpin oleh pemimpin yang menerapkan standar tinggi dalam bidang etika dan moral ternyata tertulis dalam catatan sejarah mampu untuk lebih sukses dalam jangka panjang. Perusahaan beretika yang berhasil ini, menjalankan perusahaan mereka dengan tata kelola perusahaan yang baik. Berlawanan dengan pemahaman prinsip dasar kapitalisme. Dedengkot Kapitalisme, Adam Smith, beranggapan bahwa bumi menyediakan tanpa batas sumber daya bagi manusia. Setiap individu berhak untuk mencari keuntungan tanpa batas.
Kesimpulan ini dapat dipadukan dengan suatu kajian sembilan tahun sebelum buku ini diterbitkan. Arie de Geus (1996), mantan direktur Shell Oil, pernah membuat suatu kajian tentang korporat-korporat multinasional/transnasional yang sukses, serta kemudian menjadi acuan bagi perusahaan-perusahaan lain. Ia menemukan bahwa satu kesamaan dari korporat multinasional/transnasional itu, yakni dipimpin oleh pemimpin yang memimpin dengan keteladanan.
Suatu sistem organisasi yang ingin bersaing dalam jangka panjang harus memiliki sub-sistem yang saling menunjang. Harus memiliki sub-sistem insentif yang mempertimbangkan pencapaian prestasi jangka panjang dan penerapan nilai-nilai etika sebagai salah satu faktor penilaian dan promosi. Memiliki sub-sistem audit yang mampu mendeteksi secara cepat penyimpangan yang terjadi dan menghukum para pelanggar tanpa pandang bulu. Kepemimpinan yang menjunjung tinggi etika dan memberi teladan jelas sangat dibutuhkan.. Tanpa hal-hal seperti itu, etika dalam perusahaan hanyalah omong kosong.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Bateson (2006), pada School of Biology and Psychology di Newcastle University, Inggris. Manusia ternyata bersikap lebih jujur apabila merasa ada yang mengawasi. Bahkan meskipun pengawasan itu semu. Kesimpulan itu diperoleh setelah tim peneliti meletakkan "kotak kejujuran" yang diletakkan dekat kotak minuman di kantin kampus selama sepuluh minggu. Kotak tersebut berfungsi sebagai tempat pembayaran makanan atau minuman, yang dibeli.
Tidak ada kasir yang mengawasinya. Pembeli harus memasukkan uang mereka ke kotak itu. Setiap minggu, kotak itu ditempeli berbagai rupa macam poster di atas kertas berukuran “A5”. Pada minggu pertama, dipasang daftar harga minuman setinggi ukuran mata. Di minggu lain, poster diganti gambar bunga. Juga ada minggu dimana dipajang sepasang mata manusia pengawas. Tiap akhir minggu, uang yang masuk dihitung berdasarkan total minuman yang terjual. Hasilnya, jumlah uang di dalam kotak ternyata menjadi berlipat tiga apabila kotak dipasangi sepasang mata pengawas daripada dipasangi bunga!!!
Di sisi lain kita juga tidak bisa mengawasi secara berlebihan. Pengawasan secara berlebihan akan menimbulkan rasa tidak percaya dan saling curiga. Kebebasan tetap dibutuhkan, namun garis batas harus ditarik tegas. Para pelanggar harus dihukum secara adil dan transparan.
Bila dirasa akhir-akhir ini terjadi peningkatan dalam penyimpangan dalam operasional perusahaan. Apakah penyebab dari kejadian yang berlaku ini? Apakah ini merupakan masalah etika moral dan pemberian teladan? Atau kesalahan sistem organisasi, insentif dan kontrol audit? Atau mungkinkah ini merupakan pencerminan kesalahan multi dimensi?

0 Comments:
Post a Comment
<< Home