personalweb

Wednesday, October 11, 2006

EUPHEMISM

KAMPRET!! = BINATANG YANG BISA TERBANG????

Seorang CEO di negeri BBM setelah berhari-hari memeras otak, akhirnya berhasil merumuskan strategi perusahaan untuk tahun depan. Dengan bangga, dia mendistribusikan rencana strategi tersebut ke seluruh karyawan. Tertarik untuk mendengar komentar dari tingkat terbawah, sang CEO meminta para manajer mengumpulkan pendapat dari bawahan mereka dan dilaporkan ke atas.

Di tingkat terbawah, para karyawan yang terkejut setelah membaca rencana tersebut berkoar-koar, “Kampret! Siapa pemabok yang membuat rencana ini? Ini tidak mungkin berhasil!”
Sang supervisor yang terpaksa melapor ke manajernya, berkata, “Mereka para anak buah mengatakan strategi tersebut ibarat sejenis binatang yang bisa terbang dan yang membuatnya adalah orang yang telah minum-minum. Ada kemungkinan, walau kecil, rencana ini akan berhasil.”
Sang manajer yang melapor ke kepala departemen mengatakan, “Mereka melihat strategi ini bagaikan sesuatu yang bisa terbang. Pembuatnya pasti minum-minum untuk merayakannya. Ada kemungkinan rencana ini bisa berhasil.”
Kepala departemen ke kepala divisi, “Mereka melihat strategi ini bakal terbang karena rencana ini bisa berhasil. Strategi tersebut harus dirayakan dengan minum-minum.” Kepala divisi akhirnya menghadap sang CEO dan memberikan kabar gembira, “Mereka melihat strategi ini akan membuat perusahaan kita terbang ke awang-awang. Mereka percaya strategi ini pasti akan berhasil. Mereka sudah minum-minum untuk merayakannya!”
Sang CEO puas mendengarnya! Tersenyum-senyum dia membayangkan bonus besar yang akan diterimanya.
Euphemism adalah penghalusan arti kalimat pada sebuah kosa kata. Jalur komunikasi yang terlalu panjang dan birokratis, euphemism akan menjadi faktor yang mendistorsi pesan awal. Tidak heran dalam sebuah organisasi yang jalur komunikasinya tidak tersistem dengan baik akan sering terjadi distorsi-distorsi dalam rangkaian informasi yang mengalir. Dalam kehidupan ini sudahkah anda mengambil keputusan benar-benar berdasarkan informasi yang sebenarnya? Atau anda telah menjadi CEO negeri BBM yang tersenyum-senyum membayangkan bonus besar beradasarkan asumsi dan informasi yang terdistorsi?

PENYIMPANGAN OPERASIONAL

Suatu kesimpulan yang cukup mengejutkan diambil oleh Doug Lennick dan Fred Kiel (2005) dalam buku mereka “Moral Intelligence”. Mereka menyimpulkan bahwa ternyata perusahaan-perusahaan yang dipimpin oleh pemimpin yang menerapkan standar tinggi dalam bidang etika dan moral ternyata tertulis dalam catatan sejarah mampu untuk lebih sukses dalam jangka panjang. Perusahaan beretika yang berhasil ini, menjalankan perusahaan mereka dengan tata kelola perusahaan yang baik. Berlawanan dengan pemahaman prinsip dasar kapitalisme. Dedengkot Kapitalisme, Adam Smith, beranggapan bahwa bumi menyediakan tanpa batas sumber daya bagi manusia. Setiap individu berhak untuk mencari keuntungan tanpa batas.
Kesimpulan ini dapat dipadukan dengan suatu kajian sembilan tahun sebelum buku ini diterbitkan. Arie de Geus (1996), mantan direktur Shell Oil, pernah membuat suatu kajian tentang korporat-korporat multinasional/transnasional yang sukses, serta kemudian menjadi acuan bagi perusahaan-perusahaan lain. Ia menemukan bahwa satu kesamaan dari korporat multinasional/transnasional itu, yakni dipimpin oleh pemimpin yang memimpin dengan keteladanan.
Suatu sistem organisasi yang ingin bersaing dalam jangka panjang harus memiliki sub-sistem yang saling menunjang. Harus memiliki sub-sistem insentif yang mempertimbangkan pencapaian prestasi jangka panjang dan penerapan nilai-nilai etika sebagai salah satu faktor penilaian dan promosi. Memiliki sub-sistem audit yang mampu mendeteksi secara cepat penyimpangan yang terjadi dan menghukum para pelanggar tanpa pandang bulu. Kepemimpinan yang menjunjung tinggi etika dan memberi teladan jelas sangat dibutuhkan.. Tanpa hal-hal seperti itu, etika dalam perusahaan hanyalah omong kosong.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Bateson (2006), pada School of Biology and Psychology di Newcastle University, Inggris. Manusia ternyata bersikap lebih jujur apabila merasa ada yang mengawasi. Bahkan meskipun pengawasan itu semu. Kesimpulan itu diperoleh setelah tim peneliti meletakkan "kotak kejujuran" yang diletakkan dekat kotak minuman di kantin kampus selama sepuluh minggu. Kotak tersebut berfungsi sebagai tempat pembayaran makanan atau minuman, yang dibeli.
Tidak ada kasir yang mengawasinya. Pembeli harus memasukkan uang mereka ke kotak itu. Setiap minggu, kotak itu ditempeli berbagai rupa macam poster di atas kertas berukuran “A5”. Pada minggu pertama, dipasang daftar harga minuman setinggi ukuran mata. Di minggu lain, poster diganti gambar bunga. Juga ada minggu dimana dipajang sepasang mata manusia pengawas. Tiap akhir minggu, uang yang masuk dihitung berdasarkan total minuman yang terjual. Hasilnya, jumlah uang di dalam kotak ternyata menjadi berlipat tiga apabila kotak dipasangi sepasang mata pengawas daripada dipasangi bunga!!!

Di sisi lain kita juga tidak bisa mengawasi secara berlebihan. Pengawasan secara berlebihan akan menimbulkan rasa tidak percaya dan saling curiga. Kebebasan tetap dibutuhkan, namun garis batas harus ditarik tegas. Para pelanggar harus dihukum secara adil dan transparan.

Bila dirasa akhir-akhir ini terjadi peningkatan dalam penyimpangan dalam operasional perusahaan. Apakah penyebab dari kejadian yang berlaku ini? Apakah ini merupakan masalah etika moral dan pemberian teladan? Atau kesalahan sistem organisasi, insentif dan kontrol audit? Atau mungkinkah ini merupakan pencerminan kesalahan multi dimensi?